Sunday, January 4, 2009


Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini
Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kenderaan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su'udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama'i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata "afwan akh, ana tak bantu banyak…" atau sms yang berbunyi "afwan akh, ana tak dapat datang untuk syuro malam ini…" atau kata-kata berawalan "afwan akh…" lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekadar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah "Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini", mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, sebab tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???
Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktiviti sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya.
Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat "minta cuti" lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah. Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktivis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktivis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab "Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus ponteng kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun." Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan mentalitinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.
Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sedar, bahwa setiap aktiviti yang di dalamnya terdapat interaksi antara manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan dapat mengelakkan diri dari komunikasi @ masalah hati. Ya, setiap aktivis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeza-beza. Ada aktivis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktivis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktivis-aktivis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah laku aktivis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realiti yang harus kita fahami dan kita terima. Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktivis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata "afwan", "maaf" atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dihayati dengan kesedaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang cakap bahwa kata-kata "afwan", "maaf" dan sebagainya akan sangat tak ada ertinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama. Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktivis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sedarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesedaran bahwa aktivis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesedaran bahwa aktivis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezaliman kepada saudara-saudara kita. Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktiviti dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata "afwan" yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata "Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini" tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktivis dakwah.

"MATINYA PERJUANGAN"



Sering orangtua mendidik anak mereka hari ini bukan untuk mempersiapkan menantang masa depan. Akibatnya sering digilas masa depan

Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan.
Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa.
Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." (Al-Qalam: 1-6).
Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.
Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan.
Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit maupun yang Ia munculkan dari bumi.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A’raaf: 96).
Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi. Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau…, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.
Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath (kebablasan). Bisa terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.
Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di dalamnya.
Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik.
Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali, "Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu."
Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, "Dulu bapak begini juga bisa." Atau, "Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil."
Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga berkata, "Ah, apa itu orangtua…! Gagasan mereka semuanya usang!"
Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.
Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan.
Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan "ruh" yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji.
Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat ‘Ali. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.
Teringatlah saya kepada ayat Allah: "Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri." (At-Taubah: 122).
Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi. *

Wednesday, April 23, 2008


Tuesday, April 22, 2008


CERPEN : BINTANG MENCARI KEKASIH

Ingin kubunuh engkau wahai pencuri hatiku. Kala langit nebula sejenak, aku nekad. Langkah kuhayun kemas. Pedang dendam kuhunus. Kau terkesima. Terantai diri, terpaku kaku. Algojo meresap ke daerah metabolismaku. Aku ketawa. Ketawa kuat. Kau bakal mati di tangan perempuan ini! Pedangku sudah mula dahagakan darahmu. Pengkhianat cinta! Kilauan pedangku mencantas cabang lidahmu yang pernah mengunci diriku dengan kata-kata syahdumu. Lantas hunusan pedangku mula merobek hatimu. Katamu dulu, akulah penghuni hati itu. Ah! Dulu gadis ini mudah kau dustai tapi hari ini aku tidak akan percaya dengan kalimah yang terlontar dari mulutmu.

Ha…ha…ha! Kau luka parah. Terlalu parah! Darah merahmu memercik ke lantai bumi. Jijik aku memandangmu. Hanyir sinusku terhidu air darah itu. Sakit? Sakitkah? Begitulah sakitnya perasaan dan jiwa perempuanku saat kau menjauhkan diri daripadaku. Malah, lebih pedih dan sakit daripada apa yang kau alami sekarang. Pengkhianat cinta! Cinta? Huh! Cinta!! Cintakah itu andai semasa senang bersama, tetapi saat kesukaran datang menghimpit, kau mula pergi dan hilang entah ke mana. Cintakah itu andai sekadar melampias nafsu, menjaring iman? Cintakah itu andai maruah dilempar dari jendela hidup? Cintakah itu andai pengakhirannya bukan di gerbang yang halal?

“Arghhh!!!”
Hentikan eranganmu.
“Arghhh!!!”
Hentikan! Kataku, hentikan!

Pada suatu masa dulu, aku pernah jadi penagih cintamu. Hidangan candu cinta badani di setiap malamku hanyalah bersamamu. Aku jadi khayal kerana aku gadis yang fakir kasih sayang. Aku mencari kasih. Aku mendamba sayang. Salahku kerana mencari kasih sayang daripada makhluk sepertimu. Salahku kerana lupa pada kekasih yang tidak pernah meninggalkanku walau sedetik. Salahku kerana terpedaya dengan perangkap bicara manismu. Renjisan kasih yang membasahi taman hatiku ketika bersamamu, menghijaukan pepohon rindu. Setiap saat, setiap waktu, zikirku hanya namamu. Tapi suatu hari, dajjalmu merasuk setiap urat nadi dan belulang. Mahkota yang kujaga telah kau rampas. Aku rasa berdosa. Hitam! Kotor! Hina! Tika itu aku menangis. Kau juga. Kita jadi tak menentu. Kau memeluk tubuhku erat. Menenangkanku, menabur lagi bicara indah di depanku. Lantas pujukanmu menguntumkan senyumku kembali. Gadis ini percaya padamu. Percaya sungguh-sungguh. Dan akhirnya, ia tidak berakhir di situ sahaja. Kepercayaanku padamu menjerat diri. Akhirnya malam-malamku bertemankan manusia topengan syaitan.

“Arghhh!!”
Hentikan eranganmu!
“Arghhh!!”
Hentikan. Kataku, hentikan!

Harapanku bertaburan pecah. Hancur dan berderai. Saat aku kehilanganmu, aku jadi hilang punca. Bagai orang hilang akal. Gila! Aku hampir-hampir menelan semaksima mungkin pil tidur. Aku tidak mahu hidup lagi. Gadis ini beranggapan, kehilanganmu bermakna sudah tiada ertinya lagi untuk meneruskan penghidupan ini. Wah! Agungnya dirimu ketika itu di mataku. Hatta aku sanggup mati keranamu. Kasih kita berkubur tanpa nisan. Kemboja yang gugur aku kutip satu-persatu, membina kembali semangatku yang kian rapuh. Aku buntu. Hari-hari yang kulalui tiada bernoktah. Kucari dirimu di segenap ruang. Pelusuk dunia kupanjangkan langkahku. Namun dirimu tidak kutemu. Aku hampa. Kecewa. Kau pengkhianat cinta!

Ah! Aku sudah bosan! Bosan dengan hidup yang penuh pura-pura. Aku seperti mayat hidup. Entah berapa kali aku mati lalu hidup semula keranamu. Aku masih tegar menunggumu walau kutahu penantianku hanya sia-sia. Ah! Mengapa tika itu aku begitu bodoh? Aku masih menjadi penunggu setia cinta kita kerana aku yakin benar kau akan pulang. Aku yakin. Sungguh-sungguh yakin. Prolog cinta yang kita layarkan tidak akan bernoktah mati. Dirimu terus kunanti…

“Arghhh!!!”
Hentikan eranganmu!
“Arghhh!!!”
Hentikan! Kataku, hentikan!

Ha…ha…ha…Merayulah! Teruslah merayu. Pengkhianat cinta! Mautmu di hujung jemariku. Nyawamu kan kucabut perlahan-lahan. Kau tidakkan mati dengan mudah. Izrail jua tidakkan kasihan dengan makhluk sepertimu. Aku haramkan diriku daripada berihsan denganmu kerana kau tidak pernah tahu erti ihsan. Dendam? Aku perempuan pendendam? Ya! Dendam ini telah lama bersarang di hatiku. Tatkala ketemu dirimu hari ini, bara dendamku padamu marak menyala disimbah api kebencian yang meluap-luap padamu. Simpatiku kian terbenam. Kasihku kian terkubur. Di tangan seoarang perempuan ini kau bakal mati!

Ingatkah kau noda-noda hitam yang mengeruhkan sejarah hidup kita? Aku kaget saat kau menyuruhku menggugurkan bayi tak berdosa yang menghuni rahimku. Dia anakku. Anakmu jua. Berkali-kali aku cuba meyakinkan dirimu bahawa dia adalah zuriatmu. Anak yang lahir tatkala ovumku bersatu dengan spermamu. Sarat dosa yang kita tanggung kian menggunung. Aku terpaksa akur dengan kehendakmu lantaran aku jua takut dengan cemuhan yang bakal tiba. Fetus yang masih suci murni telah kubunuh. Aku pembunuh. Pembunuh zuriatku sendiri! Layakkah diriku digelar insan?

“Arghhh!”
Hentikan eranganmu!
“Arghhh!!!”

Hentikan eranganmu. Jangan kau renung ke dalam bola mataku yang sarat kebencian. Belati yang tersisip di pinggangku bakal kutarikan mengikut rentak dendam ini. Biar pedih tersiat kulitmu. Biar jeritanmu memecah hening senja. Aku tak peduli kerana aku mahu kau merasakan kepedihan hati yang pernah kurasakan. Aku berasa puas. Puas! Puas! Aku dirasuk iblis? Siapa yang lebih iblis? Kau pernah berjanji menyuntingku menjadi suri hidupmu tapi aku kau pinggirkan. Janji hanya tinggal janji. Aku kau jamah tanpa mengira halal dan haram. Aku kecewa. Terlalu kecewa!

Saat kita semakin hanyut dalam arus durjana, kau menghumbanku ke lurah yang lebih hina. Dasyat dan menjijikkan. Sehingga aku sendiri tidak percaya bahawa aku pernah hidup bergelumang najis itu. Kau memberiku dadah setiap kali bertandang menghampiriku. Lantas ketagihan pada najis itu mula menular. Tubuhku menggigil kesejukan saat aku khali daripada suntikan najis durjana itu. Darahku kian sebati dengannya. Aku mula mencuri barang-barang kemas milik mamaku kerana kau sering mendesakku memberikan dirimu wang andai aku mahu bekalan najis itu. Katamu, tubuhku sudah muak kau terokai lantas wang yang kini menjadi perkara utama dalam kehidupan manusia hari ini yang didambamu. Aku tidak mampu berbuat apa-apa melainkan menurut sahaja kemahuan gilamu itu.

Aku sudah mula ponteng kelas. Namun adakalanya kugagahi jua diriku untuk menghadirkan diri ke kuliah dan tutorial. Bimbang ada yang menyedari sesuatu telah berlaku padaku. Mataku cengkung. Ranting tubuhku layu. Bibirku pucat. Rambutku kusut-masai. Diriku sudah tidak terurus lagi. Tiada lagi Bintang yang ceria dan riang. Kawan-kawanku mula bertanya itu dan ini padaku. Masing-masing hairan dengan perubahan drastik yang berlaku pada diriku, lebih-lebih lagi Salsabila. Tentu kau masih ingat pada gadis ayu yang selalu dicemuhmu itu. Kau melarang aku bersahabat rapat dengan gadis Che Siti Wan Kembang itu. Kau gusar aku terpengaruh dengan dakyah Islam fanatik dan syadid Salsabila.

Katamu, dia pembawa ajaran sesat, mendiskriminasikan wanita. Wanita haram bercakap dengan lelaki ajnabi. Wanita hanya layak mencangkung di ceruk dapur. Wanita tidak boleh keluar rumah. Wanita hanya layak berjalan di tepi jalan. Wanita perlu menutup seluruh tubuh. Panas! Rimas! Katamu, mengapa perlu ditutup dan disembunyikan keindahan yang dimiliki? Serlahkan segala-galanya supaya kita mampu berbangga dengan diri sendiri. Barulah kita tampil yakin dengan penampilan diri. Ah! Dangkal sekali hujjahmu. Benarlah! Segala kebejatan sosial, kisah haruan makan anak sebenarnya bermula daripada pendidikan agama yang lompang.

Islam sebenarnya tidak pernah membeza-bezakan antara wanita dan lelaki. Wanita tetap mempunyai hak-haknya. Dalam Islam, segala perbatasan yang disyariatkan ke atas wanita adalah untuk menjaga maruah wanita justeru mengangkat martabat wanita ke tempat yang a’la. Wanita dikurniakan kelembutan. Ada mawaddah yang mewarnai jiwa setiap wanita yang tiada pada kaum Adam. Andai dalam suatu institusi kekeluargaan hanya wujud ketegasan dan kekerasan, pastinya kehidupan yang dilayari akan pincang. Justeru wanita adalah sayap kiri kaum Adam. Pelengkap kehidupan agar ada perseimbangan. Lantas apakah diskriminasi yang telah kau perkatakan itu? Salsabila yang berjubah, bertudung labuh menutupi paras dadanya, menjaga syariat agama suci ini, kau hukumnya sebagai pelampau agama. Ah! Bodohnya aku ketika itu. Jahilnya aku kerana masih buta walaupun cahaya indah bersinar di depan mata. Aku alpa lantas memilihmu sebagai penunjuk jalan hingga aku tersesat dan tersimpang jauh dari destinasi yang sebenar.

Mama dan papa mula menyedari perubahan yang berlaku pada diriku walaupun aku cuba menyembunyikanya. Namun, sedaya manalah kudratku tika tamparan papa singgah di pipiku. Aku menangis tatkala mama jua mengiakan tindakan papa. Aku jadi serba salah, lantas tika itu ingatanku menerpa ke bayangan wajahmu. Kurasakan mama dan papa tidak lagi sayang padaku. Aku terus menghubungimu. Perasaanku mendesak untuk lari meninggalkan keluargaku dan hidup bahagia bersamamu. Ah! Hampanya aku ketika itu kerana aku gagal menghubungimu. Kau kucari di segenap ruang namun segala-galanya sia-sia. Mengapa penghujungnya perlu begini? Setelah kau beriku harapan yang menggunung, aku akhirnya terkapai-kapai sendirian.

Setelah mama dan papa mengetahui aku adalah penagih, mereka menghantarku ke pusat serenti. Di sana, aku belajar erti kehidupan. Barulah kusedar betapa sukarnya suatu penghidupan yang tulus. Barulah aku faham matlamat sebenar kita dijadikan. Kasih sayang yang didamba daripadamu hanyalah suatu pembohongan. Pembohongan yang tidak pernah kusedari. Aku jadi buta dengan sinaran mata kasihmu yang redup. Aku jadi bisu dengan syair indah bicara rindumu. Aku jadi khayal dengan hembusan cinta dustamu. Pengkhianat cinta!

“Arghhh!!!”
Hentikan eranganmu.
“Arghhh!!!”
Hentikan! Kataku, hentikan!

Bintang…Kau tak berhak menghukum insan itu. Sudahkah kau beri dia peluang untuk menebus kesalahan dirinya? Sudahkah kau berinya peluang untuk meminta maaf daripadamu? Sudahkah kau berinya peluang membela dirinya?
Maaf ? Bela diri ? Menebus kesalahan ? Apakah kesalahannya boleh ditebus ? Hatta air dari tujuh lautan tidak mampu membasuh dosa dan noda hitam yang tercalit di kanvas sejarah hidupku. Lantas, apakah aku bisa memaafkan durjana ini? Maaf. Hatiku sudah terkunci untuk merelakan dirinya mempermain-mainkan perjalanan hidupku lagi.

Bintang…Sesungguhnya Rasulullah SAW bersifat pemaaf. Baginda sentiasa memaafkan kesalahan insan lain hatta musuh perang baginda sendiri. Baginda juga mahu ummatnya bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Allah jua bersifat pemaaf. Allah sentiasa melimpahkan Maghfirah-Nya buat hamba-hamba-Nya andai dia benar-benar insaf dan bertaubat nasuha. Jangan biarkan api dendan membakar jiwamu yang penuh mawaddah itu. Diriku yakin kau mampu memaafkan insan ini walaupun memori hitam itu menyekat dan meronta-ronta, menggegar dan menggoyahkan iman serta ihsanmu. Bintang…maafkanlah dia…

“Arghhh!!!”
“Arghhh!!!”
“Arghhh!!!”
Bintang…maafkanlah dia…
Tidak!
Bintang…maafkanlah dia…
Tidak!! Sekali-kali tidak akan kumaafkan durjana ini!
“Arghhh!!!”
“Arghhh!!!”
Kupinta padamu dengan seluruh jiwaku, maafkanlah dia, Bintang. Maafkanlah dia…Maafkanlah dia dengan sepenuh hatimu. Maafkanlah dia…

Suara yang datang bersama pawana lembut membelai naluriku. Serasa dingin menyentuh sukma. Mata hatiku mula memandang hikmah yang mengalir. Kesumat yang terbuku kian mencair. Entah mengapa, tiba-tiba sahaja hati perempuanku beriak tenang. Memandang suatu wajah yang lewat hari-hariku sering menemuinya, menjadikan diriku insan yang mula mengenali indahnya Islam, indahnya hidup ini andai menyusurinya dengan penuh tulus dan hikmah. Dia insan mulia. Insan yang cukup kuhargai budi dan kalam nasihatnya. Ah! Benarkah seperti katanya, aku perlu memaafkan durjana ini?

Prolog hidupku….
Monolog sendirian…
Bahagia atau keciciran…?

Kutemui suatu hati yang berpancaran bagai lautan. Kuselaminya dan di sana kutemui mutiara keluhuran dan keikhlasan. Kalam yang terlantun dari bibirnya bagai renjisan hikmah yang menyuburkan keimanan. Fatamorgana dunia telah mengaburiku dari mengenal hakikat kehidupan. Aku bangun kembali membina suatu iltizam baru.

Sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita solehah…

Indahnya kerlipan sang bintang, menghiasi atap dunia. Sinarnya membelah keheningan malam. Kerdipnya mengunci mata yang memandang. Tiadakah sang bintang yang sudi di sisi ini?

Serasa dia mula melamar cintaku. Hatiku berbunga indah. Dia insan mulia. Layakkah aku untuknya? Keyakinanku padanya menebal. Dia bersedia membimbingku, menunjukiku menuju cahaya kebenaran. Sanggup menerimaku seadanya. Duhai…mulianya hatimu. Tulusnya cintamu padaku. Terima kasih kerana sudi menerimaku. Bintang yang sinarnya hampir padam, kini berkerdip kembali. Bergentayangan di persada malam bersama purnama indah dalam gugusan kasih sayang anugerah Ilahi. Ya Allah! Dengan Rahmat-Mu, kuingin hidup ini terus indah bersamanya.

Kejam!!!
Dunia ini terlalu kejam!!
Kejam!!!

Tidak! Bukan dunia ini yang kejam. Kau yang mencipta duniamu untuk menjadi kejam padamu. Sejarah kekejaman di masa lampaumu telah meninggalkan artifak-artifak hitam di masa hadapanmu. Kau yang berbuat dosa, lalu kaulah yang perlu menanggung akibatnya!!

“Bintang….anda disahkan menghidap HIV Positif.”

Gelap…Hidupku gelap. Segala-galanya hancur. Musnah…Ya Allah!

Aku berteleku di hamparan suci. Bintang ini nekad! Hanya padamu Ilahi aku serahkan jiwa raga ini. Ya Rabbi… terimalah dagangan nan hina ini. Aku malu pada-Mu Ya Allah! Teramat malu…Banyaknya dugaan yang perlu kutempuh. Kini berseorangan menghadapi segala-galanya. Tapi aku tahu Ya Allah, Kau tidak pernah meninggalkanku walau sedetik. Kini aku kembali mencarimu Ya Allah, mencari diri-Mu yang terlalu lama kutinggalkan. Mencari dan mendamba cinta daripada kekasih nan agung. Ya Allah! Bintang telah bertemu dengan kekasihnya. Rabbi… Kaulah Kekasih Agungku….

CERPEN : SRIKANDI CINTA

Saya dan dia tahu ungkapan itu. Kami jelas maksud di sebaliknya. Kami faham ia. Malah kami bersetuju dengan ungkapan itu. Seorang lelaki adalah pelindung bagi seorang wanita. Lelaki buat wanita ibarat mega yang meneduhi insan daripada panahan sinar mentari. Lelaki dan wanita saling memerlukan. Lengkap-melengkapi antara satu dengan yang lain. Hawa lahir dari tulang rusuk kiri Adam. Wujudnya Hawa kerana rindu dan sepi Adam. Jelas! Lelaki perlukan kelembutan dan mawaddah wanita. Wanita perlukan kekuatan dan semangat lelaki.
Saya terkilan. Hati saya meruntun mencari jawapan pada keterlanjuran sikapnya. Hairan! Begitu mudah dia melupakan makna ungkapan yang kami pegang selama ini.
Dia rafiq terakrab saya. Tidak keterlaluan jika saya katakana, antara beribu bintang yang berkerdipan di lelangit malam, dialah kejora yang berkilau megah. Sudah lama kami tidak ketemu. Tapi hari ini tika saya sedang membelek-belek halaman hadapan Warta Perdana, satu warkah biru saya terima. Tersisip kemas lipatannya dalam sampul papyrus coklat.
Tangan kanan mula bertindak balas menyiat bucu sampul surat, tanda menyetujui impuls yang dihantar otak. Naluri tertanya-tanya pengirimnya.

107, Umar Thusuh Street,
Damanhour, Mesir.
24 Oktober 2002.


Assalamualaikum wbt,
Salam sesuci embun pagi kuhulurkan buat sahabat yang senantiasa di ingatan ini. Moga dirimu sihat hendaknya serta berada di bawah lembayung Rahmat dan Maghfirah Ilahi. Maafkanku kerana sudah lama tidak mengutusimu. Diam bukan bererti lupa. Percayalah! Namamu sentiasa wujud dalam kalam doaku.
Muadz,
Kalau mampu aku benamkan segala nestapa yang bersarang di lubuk jiwa ini ke dasar Laut Merah, akan aku lakukan. Kalau boleh aku hanyutkan segala memori yang meracun fikiran ini ke Sungai Nil, akan aku usahakan. Kalau bisa aku lontarkan segala noda hitam yang menghantui diri ini ke Piramid Ghazi, akan aku laksanakan. Tapi Allah Maha Adil. Segala duri dosa tertancap kembali ke dada ini. Walau lukanya hampir sembuh, namun pedih dan parutnya masih ada.
Kini aku ibarat pungguk yang rindukan sang qamar. Aku tahu, pungguk pastinya tidak mampu menggapai sang qamar yang nun jauh di persada malam. Tapi aku terlalu merinduinya, Muadz! Dan nyalaan rindu ini tidakkan pernah padam mahupun pudar dari kandil jiwaku.

Saya bingung. Naluri saya meruntun mahu tahu apa titik hitam yang telah tercoret dalam kamus hidupnya. Siapa yang dia rindukan? Terlalu istimewakah insan itu? Saya susuri bait kalam warkahnya.

Muadz,
Sejak kau membawa haluanmu dan aku membawa haluanku, kita terus terpisah. Tika itu aku tercari-cari rafiq sejujur dan sebaikmu. Nyata, ummi dan baba memahaminya. Ummi dan baba telah menyunting kuntuman wardah di bustan Imam Haji Ismail untukku.
Wardah seindah namanya. Seharum puspa yang mewangi di taman. Tersusun bait bicaranya. Sopan gerak-gerinya. Mahmudah sifat yang dipertontonkannya. Kukira tiada palitan cela padanya. Wardah berkembang mekar di bustan jiwaku. Kusiraminya dengan titisan kasih dan cintaku.
Setahun aku mengikat kasih bersama Wardah. Kami berdua telah bersetuju untuk membina mahligai bahagia setelah tamat pengajian. Tapi takdir telah menentukan kami berjauhan. Mungkin ingin menguji kesetiaan dan kejujuran antara dua insan ini. Aku berjaya melanjutkan pelajaran ke Universiti Indiana dalam jurusan Pengurusan Perniagaan. Wardah pula meneruskan pengajiaannya dalam jurusan Syariah Islamiah di Universiti Malaya.

Kini saya faham sedikit-sebanyak susur-galur kisahnya. Terus-terusan mata saya melirik tiap kalimah yang tertulis.

Muadz,
Setelah setahun di rantau orang, aku makin faham asam garam kehidupan. Tapi fahamanku jelas tersimpang daripada adat budaya timur. Malah, lebih tersimpang jauh apabila fahamanku tersasar terus dari corak Islami. Entah bebayang hitam mana yang datang membaluti roh dan jasadku, hingga aku tidak sedar semakin hari aku semakin hanyut dibawa arus barat.
Benteng imanku runtuh persis runtuhnya World Trade Centre. Aku lupa pada pencipta. Aku cuai dengan tanggungjawabku sebagai seorang anak. Aku lalai dengan tugasku sebagai seorang pelajar. Hari demi hari aku semakin lupa, cuai dan lalai.
Di sana aku lebih gemar keluar berfoya-foya di pub-pub berbanding keluar ke perpustakaan mentelaah pelajaran. Aku banyak menghabiskan masa berhibur dengan hiburan yang melalaikan daripada menghabiskan masaku di tikar sembanhyang menghadap Yang Kuasa,. Aku lebih suka bergelak ketawa bersama teman-teman daripada menitiskan air mata menangisi tiap dosa yang telah aku lakukan.
Aku pernah melakukan noda hitam yang tidak mampu aku basuh walau dengan tujuh lautan sekalipun. Mungkin payah untuk kau mempercayainya. Tapi diri ini telah tersalut dengan debuan duniawi yang aku sendiri sukar untuk membersihkan diriku daripada debu hitam itu. Darah yang mengalir dalam tubuh ini terlalu kotor dan jijik kerana aku telah berkali-kali meneguk air haram itu. Benarlah sabda Rasulullah SAW, “Arak adalah ibu kepada segala kemaksiatan”. Malam itu aku hanyutkan bahtera dan berlayar bersama si jelita Sandra Lane. Aku berdosa, Muadz! Terlalu berdosa!

Hati saya berdebar-debar. Jantung saya berdegup kencang. Aliran darah berlari deras di segenap kapilari. Bagaimana rafiq yang sama-sama belajar di sekolah agama dulu, boleh kecundang dengan hembusan syaitan dan nafsu? Ah! Rapuh sekali kota imannya. Lemah sekali benteng pertahanan dirinya. Ya Allah! Hindarkan kami daripada terjerumus ke lembah kehinaan.

Muadz,
Dalam masa yang sama, warkah dari Wardah tidak jemu-jemu aku terima. Kandungan warkah itu pasti terselit kalimah nasihat dan kalam semangat daripadanya., Dia sering menasihatkanku supaya tidak meninggalkan solat kerana solat merupakan tiang agama dan pencegah kepada kemungkaran. Dia juga tidak lupa menyuruhku belajar bersungguh-sungguh dan tidak menghampakan harapan ummi dan baba serta harapan yang dia letakkan padaku. Wardah menyuruhku bijak memilih sahabat. Katanya sahabat yang mulia adalah sahabat yang mengajak kita ke arah kebenaran dan bukannya mengheret kita ke kancah kebatilan dan kemaksiatan.
Tapi entah di mana silapnya, Wardah kian hari kian layu dari jambangan jiwaku. Nasihat dan tegurannya langsung tidak kupedulikan. Surat-suratnya tidak pernah aku balas malah kubakulsampahkan. Aku sedar Muadz, aku kejam! Terlalu kejam!

Saya terpinga-pinga. Pintu hati saya diketuk persoalan. Begitu mudah cinta dilupakan. Begitu senang kasih dipersiakan. Walaupun dia rafiq terakrab saya, tapi saya kira dia boleh dihukum sebagai seorang insan yang lompang setianya dan kurang jujurnya.

Muadz,
Aku kembali ke tanah air dengan tangan kosong, tanpa sebarang ijazah. Geruh hati ummi dan baba melihat keadaan diriku. Hatiku keras bak batu di gigi pantai walaupun berkali-kali dimarahi dan ditegur mereka. Aku bawa pulang warna hidupku di sana untuk aku corakkan penghidupankiu di sini. Aku palitkan warna hitam pada gaya hidupku walau sudah kutinggalkan bumi barat dan telah kujejakkan kakiku di bumi timur.
Aku kesunyian tanpa teman-teman sealiran lebih-lebih lagi tanpa Sandra. Wardah tidak pernah aku temui. Malah dia sudah kuanggap mati dari kotak memoriku. Tapi suatu hari aku terserempak dengannya. Dia pulang bercuti. Wardah tersenyum menampakkan barisan gigi putihnya yang tersusun. Berjubah hijau pekat dan bertudung labuh hijau muda. Dia seakan-akan terkejut kerana tidak diberitahu tentang kepulanganku. Aku membalas senyumannya yang kukira pekat kerana dibuat-buat. Kami berbual dan bertanya khabar walaupun naluriku meronta-ronta tidak setuju.
Aku terpaksa ke rumah Wardah setelah didesak oleh ummi dan baba. Wardah menyambutku di muka pintu. Entah mengapa jiwaku muak memandang wajahnya. Hatiku meluat mendengar bicaranya. Rasanya mahu saja aku lari pulang. Tapi aku terpaksa kerana dipaksa. Aku tahu, Wardah sedar akan sikap dinginku padanya. Sepatah pertanyaannya, sepatah jualah jawapanku. Namun dia seorang wanita yang tabah dan sabar dengan kerenah dan sikapku.
Pada Wardah, kesetiaan dan sayangnya padaku masih mewangi persis kasturi tapi aku sebaliknya. Kasih yang terjalin antara kami dahulu kuanggap terlerai kini. Pawana cinta yang bertiup dahulu kian hambar hembusannya. Dan waktu itu aku mengharapkan Wardah faham yang aku tidak mampu untuk membina mahligai bahagia bersamanya.
Sejak aku pulang, hanya sekali itu sajalah aku bertemu Wardah. Aku tidak pernah bertanya khabarnya apatah lagi menelefonnya. Dia kuanggap seperti tidak pernah wujud dalam lipatan sejarah hidupku. Tapi Wardah gadis mulia. Dia tidak pernah menrungut malah masih mampu menjadi perindu setia cinta kami. Aku cuba bersikap dingin padanya supaya dia meminta ikatan pertunangan kami diputuskan. Tapi gadis bernama Wardah ini tebal sabarnya, kukuh kasihnya padaku.
Hambusan bayu cinta Sandra, mata jelinya yang memukau, potongan tubuhnya, gerak-gerinya yang menggoda dan layanan yang diberikan padaku membuatkan aku terus-terusan meminggirkan Wardah. Pada waktu itu kurasakan Wardah kurang segala-galanya dan pada Sandralah kuletakkan segala harapanku. Walau Sandra jauh di mata namun dekat di hati. Bil telefon menjulang tinggi kerana aku sering menghubunginya. Aku rindukan suara romantisnya. Aku dambakan belaiannya. Aku gila bayang, Muadz!

Hati saya membara. Kecewa dengan sikap sang rafiq yang luput setianya pada sillaturrahim yang suci. Dia kelabu memilih yang mana intan dan yang mana kaca. Saya singkap tabir warkah seterusnya.

Muadz,
Cinta dan sayangku kini bertaut di tangkai hati Sandra. Aku melonjak keriangan apabila Sandra menyatakan padaku dia akan datang ke Malaysia menemuiku. Entah apa yang didamba, entah apa yang dicari oleh aku yang bernama lelaki. Walhal, di hadapanku jambangan puspa wardah yang mewangi setia menanti.
Aku hanyut dalam usap belai Sandra. Dosa dan pahala tidak kuhiraukan. Akulah sang kumbang yang hampir mati dalam sakar madu sang bunga. Takdir Allah, aku terserempak dengan Wardah. Waktu itu, aku dan Sandra berjalan berpeluk-pelukan. Aku nampak Wardah, tetapi dia tidak kupedulikan. Langsung tiada perasaan malu atau rasa bersalah muncul dalam diri. Pastinya Wardah terkejut dengan perbuatan sundalku itu atau setidak-tidaknya hairan dengan tingkah-lakuku yang jelas melanggar batasan adat dan syariat.
Malam itu kuterima panggilan telefon dari Wardah. Lembut suaranya, tersusun bait bicaranya. Kukira pasti ada taufan yang melanda jiwa sucinya namun anggapanku tersasar. Dia memintaku memberikan penjelasan. Katanya dia mahu mendengar dahulu pengakuan dariku sebelum dia meluahkan apa yang terbulu di lubuk hatinya. Ah, perempuan itu! Sabarnya tiada bertepi.
Malam pekat itu menjadi saksi segala-galanya. Aku katakana pada Wardah yang sayangku padanya telah lama luntur. Kasihku padanya telah lama berinjak pada Sandra. Dan pada malam itu juga, permata jernih tumpah dari birai matanya lantaran pengakuanku. Aku tahu hatinya terguris. Hati wanita ibarat kaca. Andai terhempas, kalau tidak pecah pun, pasti ada retaknya.
Atas permintaan Wardah, aku dan dia bertemu untuk kali terakhir. Katanya ada perkara yang ingin dibicarakan. Mulanya aku enggan tapi setelah Wardah meyakinkanku yang ia tiada kaitan dengan perhubungan kami,aku bersetuju.
Satu tamparan hebat menerobos atma ini tatkala Wardah membentangkan satu persatu noda hitam yang pernah kulakukan sewaktu di Amerika dahulu di hadapanku. Aku tidak pasti dari sumber mana dia mengetahui semua itu tapi aku yakin pasti ada sahabatku di sana yang menjadi mata-mata untuknya. Wah, hebat sekali wanita ini!
Bertubi-tubi nasihat ditujahkan padaku. Dan yang paling menggetarkan segenap roh dan jasadku ialah ayat Al-Quran yang bermaksud “Jangan kau hampiri zina.”
Aku tahu aku kalah dengan tancapan bias kata-kata Wardah. Tapi kerana egoku mengatasi segla-galanya, aku humbankan Wardah dengan kata-kata kesat. Aku memarahinya dan menyuruhnya supaya tidak mencampuri urusanku. Kulihat ada memanik jernih membasahi pipinya dan ada sejalur sinar kecewa di wajah ayunya.
Namun, entah syaitan mana yang merasukku ketika itu, aku menampar pipi Wardah. Dia terjatuh hingga kepalanya terhantuk pada batu lalu berdarah. Aku kaget. Panik. Serasa dadaku ditindih sesuatu. Pantas, Wardah kurangkul dan terus kubawa ke hospital.

Degupan jantung saya makin laju. Dia memang bukan rafiq yang saya kenal dahulu. Dia tidak mudah hilang pertimbangan. Namun kini dia telah berubah.

Muadz,
Wardah koma. Doktor mengatakan ada pendarahan pada otaknya. Dia mungkin akan hilang ingatan. Rembesan memanik jernih dari kolam mataku tidak henti-henti mengalir. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada gunanya. Seharian di sisi Wardah, aku kenangkan kembali setiap kalimahnya. Aku renungkan kembali bicara yang dihamparkan olehnya. Aku lempar ego jantanku jauh-jauh. Warna mazmumah yang terpalit di lubuk jiwa perlu aku padamkan dan kuganti dengan coretan warna mahmudah. Sampai bila aku harus hanyut? Benar kata Wardah, adakah aku akan bertaubat setelah kapan putih membaluti jasad? Adakah aku akan insaf setelah kerandaku di usung ke liang lahad?
Seluruh kesyukuran dirafa’kan pada-Nya kerana Wardah tersedar jua setelah koma selama seminggu. Suatu keajaiban, Wardah masih mengenaliku, kenal kami semua. Seluruh keluarga bersyukur dan bergembira lebih-lebih lagi diri ini. Aku telah benyak bersalah dan menyakiti hatinya. Kini Wardah kembali mekar di bustan jiwaku dan aku rasa sungguh bertuah kerana Wardah sudi memaafkanku dan menerimaku semula. Sadra? Dia hanya mempermain-mainkanku selama ini. Aku hanyalah suatu persinggahan, tempatnya melampias nafsu dan melepas kesepian yang bersarang di jiwa. Ah! Aku menghina diri sendiri. Terasa kejinya aku. Rupa-rupanya dia telah lama menjalin hubungan dengan Alex, jua temanku ketika di Amerika dahulu. Dan perlahan-lahan aku menolak bayangannya jauh ke dada langit.

Saya seka air mata yang membasahi pipi. Janji Allah adalah benar. Dia pasti bersama-sama hamba-Nya yang sabar dan tabah seperti Wardah.

Muadz,
Wardah masih di hospital. Menjalani rawqatan susulan, memastikan dirinya benar-benar pulih. Suatu hari Wardah membisikkan kalam yang meruntun naluri ini. Katanya, kita bagai musafir kelana di bumi Allah ini. Setiap musafir pasti ada destinasinya masing-masing. Semuanya terserah kepada kita untuk memilih dentinasi tersebut samada ke arah yang baik atau sebaliknya. Dan destinasi abadi pastinya ke Alam Baqa’.
Kita sebagai yang dicipta perlu mematuhi segala suruhan Pencipta dan meninggalkan larangan-Nya. Segala yang ditetapkan bukanlah bertujuan untuk memberatkan hamba-hamba-Nya, Cuma sekadar ingin menguji sejauh mana kasih dan setianya kita pada-Nya.
Allah tidak pernah lokek untuk memberikan nikmat-Nya buat kita. Samada kita bersyukur atau kufur dengan nikmat-Nya, dia masih melimpahkan nikmat secara percuma kepada kita. Betapa kasih dan sayanganya Allah pada kita!
Tersentuh naluri ini mendengar kalamnya, Muadz! Wardah memang puspa wangi yang beruntung jika dimiliki. Dia punya segala-galanya. Tidak keterlaluan jika aku katakan, ketaatannya sekamil Rabiatul Adawiyah, hatinya setulus Siti Aisyah, budinya seluhur Siti Khadijah, kebijaksanaannya sejernih Siti A’isyah.

Muadz,
Tiada siapa menduga, itulah kali terakhir aku mendengar bicara indah dari bibirnya. Itulah kali terakhir aku menatap wajahnya nan ayu. Wardah pergi tika fajar menyinsing di kaki langit. Allah lebih menyayanginya. Dan aku? Sungguh! Aku tidak akan memaafkan diriku buat selama-lamanya.
Aku bagai merpati yang patah sayapnya. Nur bahagia yang kukira telah menyinar kegelapan hati hilang bersama senja nan merah. Yang tinggal padaku hanyalah memori pengubat rindu. Kini aku bawa haluanku ke bumi anbiya’ menyambung cita-cita Wardah yang terputus di pertengahan jalan. Moga Allah menerima taubat hamba-Nya yang hina dan dhoif ini. Doakan kejayaanku. Moga-moga aku tidak terpesong arah lagi. Dan Wardah….Dia abadi sebagai srikandi cintaku….

Yang benar,
Haikal Wajdi

Saya terpaku. Tidak menyangka kisah dia berkesudahan begini. Benar! Wanita adalah sayap kiri buat kaum Adam. Seindah perhiasan dunia adalah wanita solehah. Di belakang lelaki yang berjaya pasti ada seorang wanita mulia yang sentiasa memberi semangat dan dorongan padanya. Dan saya akui kebenarannya. Haikal mungkin terlambat tapi saya masih ada masa. Di sisi saya ada tiga wanita yang perlu saya lindungi, yang perlu saya kasihi. Ibu, isteri dan puteri comel, pengikat kasih saya dan isteri. Dan merekalah srikandi cinta saya….